NOVEL CRIW 78 - SYOK BERAT


LANJUTAN NOVEL CRIW
Sampai di dalam rumah, Pak Devan belum melihat istrinya. Dimana Isma? Pak Devan segera ke kamar. Ternyata Bu Isma sedang sesenggukan di kasur. Ada selembar koran di pangkuannya. Pak Devan langsung menduga istrinya telah membaca berita soal pengacara Andre. "Saya tidak mungkin tega membunuh Andre, Pa..." lirih Bu Isma, suaranya terisak. Air matanya membasahi bahu Pak Devan yang segera memeluknya erat. "Saya percaya Mama," ucap Pak Devan lembut, hatinya teriris melihat kesedihan istrinya. "Kita hadapi bersama, ya." Bu Isma mengangguk lemah, tangisnya semakin pecah. "Terima kasih, Pa. Aku takut sekali." Pak Devan mengusap lembut rambut istrinya, "Tenang saja, Mama. Pak Fajar, teman lama Papa, akan membantu kita." Tangisan Bu Isma perlahan mereda, namun matanya tetap berkaca-kaca. Pandangannya kosong, seolah-olah jiwanya melayang jauh. Hati Pak Devan teriris melihat kondisi istrinya yang begitu rapuh. Dengan lembut, ia membaringkan Bu Isma di atas kasur dan segera menghubungi dr. Anna. "Dok, saya mohon bantuannya. Istri saya shock berat. Bisa datang ke rumah secepatnya?" pinta Pak Devan dengan suara bergetar. "Baik, Pak Devan. Saya akan segera ke sana," ujar dr. Anna dari ujung telepon. Napas Pak Devan sedikit lega. Ia menoleh pada Bu Isma yang masih terpejam. Dengan hati yang berat, Pak Devan memutuskan untuk meminta bantuan Rina, adik iparnya. "Rina, Mbakmu butuh kamu sekarang. Bisa datang ke sini secepatnya?" pinta Pak Devan dengan suara bergetar. Seketika beban di dada Pak Devan terasa berkurang. "Terima kasih, Rina," gumamnya lega. Saat ia menoleh ke arah Bu Isma, istrinya sudah terduduk di tepi ranjang, tatapannya kosong. Tiba-tiba, Bu Isma melonjak berdiri, matanya membulat sempurna. "Saya tidak membunuh Andree!" jeritnya histeris, suara tangisnya memecah keheningan. Pak Devan segera memeluk erat istrinya, berusaha menenangkannya. "Astaghfirullah... astaghfirullah..." lirihnya berulang kali, hatinya pedih melihat penderitaan istrinya. Bu Isma terus berontak dalam pelukan Pak Devan, "Siapa yang bilang saya membunuh Andree? Saya tidak bersalah!" Pelukan Pak Devan semakin erat, berusaha meredam amarah dan kepanikan yang berkecamuk dalam diri Bu Isma. Detik-detik terasa begitu lambat. Tiba-tiba, Agus muncul di ambang pintu. ......................

Komentar

Postingan Populer